Minggu, 05 Juni 2011

Giovan’s Shed of Tear

Giovan’s Shed of Tear 
 


Sidoarjo, Friday June 3rd 2011 11:00 PM

WOW….! Kesan pertama yang saya dapatkan ketika coordinator plus serasa sayur asem plus lauk pauk ikan goreng alias beraneka ragam. Mulai dari sisi teknis, kid behavior, enthusiasm, awards baik academic dan character serta isak tangis entah itu bahagia atau sedih.


Ambil contoh saya terkejut dan lost of words tapi untuk kali ini akan saya usahakan lot of words… 


Anak kami, Giovan dari kelas 1 plus duduk disamping papanya, Bapak Iwan,  dengan pandangan yang jauh kedepan serta mata yang mulai sembab . mengapa? Kami guru, walikelas, serta orang tua hanya bisa menerka apa yang sesunguhnya dia rasakannya saat itu. 


Baginya, Graduation tahun ini merupakan yang pertama baginya sehingga pada saat latihan, persiapan serta perjalanan ke lokasi graduation, kami bisa melihat begitu besarnya spirit yang dia punyai. Dia ambil bagian dalam paduan suara penutup membawakan lagu Michael Jackkson “Heal the world” plus berbusana jeans yang dipadu dengan atasan warna putih.  


Dengan Sabar dia antri untuk menampilkan performancenya dan pada dasarnya, tidak ada yang salah dengan performance apalagi dia harus berbaur dengan kakak-kakak kelasnya. Tetapi ending graduation kali ini sunnguh memilukan baginya, kalau boleh saya simpulkan.  


Mengapa?
Kali ini dia merelakan piala academic award yang jatuh ke tangan teman satu kelasnya begitu pula ketika teman laki-laki satu kelasnya mendapatkan piala kategori character. Terlebih lagi, sang kakak, Agieus yang duduk dikelas empat plus juga pulang membawa trophy jenis character award. Saya hanya bisa katakan, “stop crying your heart out” menggambil sempalan lyric dari OASIS. “you still have a time to bring the trophy home next year” lanjut saya. Begitu pula yang dilakukan oleh wali kelasnya, Ms Novi, belum mampu mengangkat moodnya kala itu. Akhirnya kami berempat beserta kakaknya mencoba menghibur hati Giovan. Entah berhasil atau tidak?... biarlah Giovane belajar dari pengalaman ini dan bisa menggambil pelajaran kehidupan ini.  


Kisah ini membuat saya flashback kurang lebih 3 tahun lalu ketika graduation pertama saya dimutiara bunda dan saat itu saya menghandle kelas kakaknya, kelas 2 plus 2 tahun 2008, kelas yang amat berkesan dalam karir saya sebagi seorang guru national plus, seingatku kala itu satu murid saya yang bernama Feren Nathan juga menangis tersedu dipangkuan bundanya karena dia melihat tiga orang temannya yakni Fiorenza, Phebe, serta Agiues mendapatkan trophy sedangkan Feren tidak untuk kali itu. Sungguh sukar bagi saya untuk merasakan kepiluan anak-anak tersebut. Entah kenapa, mereka yang hampir tiap hari ceria dan penuh suka cita walaupun mereka mendapatkan tuntutan yang diatas rata-rata anak sebayanya, pada akhirnya… meneteskan airmata…





Well… setidaknya kita sebagi guru akan lebih seksama dalam memberikan awards dengan criteria yang sedetail mungkin dan kami harapkan anak-anak kami memiliki mental yang kuat serta tidak mengenal kata menyerah atau putus asa sedikitpun…


By the way, mungkin banyak Giovan-Giovan lainnya yang luput dari pengamatan kami tahun ini atau tahun-tahun yang telah lewat, kalo memeang begitu adanya… sebagai kata terakhir… 


Congratulation for all the winners and … if they can do it, why can’t you do it too… yang itu buat the next winner…

1 komentar:

  1. Really sorry, sangat sulit bagi kami menentukan pilihan diantara semua yang baik. semua mempunyai keunggulan masing. Kalo boleh memilih, kami ingin semua anak2 kami mempeoleh awards tak hanya dibidang akademik tetapi talent lainnya.Tapi apa daya awards terbatas hanya 2 kategori. Mungkin tahun ini Giovan belum beruntung. Semangat, tahun depan Giovano will be the winner..!

    BalasHapus